Memang Bisa menghafal Al-Qur’an di Jerman?
Home » Uncategorized  »  Memang Bisa menghafal Al-Qur’an di Jerman?

Memang Bisa menghafal Al-Qur’an di Jerman?

Berlin, Sebuah kota tempat ku tinggal saat ini, Aku di sini belajar sebuah ilmu yang mungkin tidak menjadi pilihan banyak orang , namun aku menyukai nya , Fisika. Ya! kuliah ku adalah jurusan fisika.


Tahun 2015 aku harus meninggalkan tanah air menuju Jerman, bukanlah sesuatu yang mudah, namun aku selalu mensyukuri apapun yang sudah banyak sekali Allah berikan kepadaku selama ini.


Saat itu aku berada di sebuah tempat kursus Bahasa Jerman, entah kenapa tiba-tiba perasaan ku mendadak berkecamuk penuh dengan keinginan untuk bisa menghafal al qu’an, namun di sisi lain, pikiran ku menghujam banyak tanya, mengapa aku selama ini tidak mampu menghafal nya? Ya Allah…


Aku bersyukur pada Allah, yang saat itu membimbingku untuk bermuhasabah diri, mengingat kesalahan diri ini, mengakui dosa-dosa dan kelalaian ku hingga menuntunku untuk memohon ampun kepada Nya.


Ya! Aku menemukan jawaban atas pertanyaanku mengapa aku selama ini tidak bisa menghafal al qur’an, sekaligus di saat yang sama, Allah dengan Maha baik Nya, melapangkan dadaku untuk memiliki motivasi yang kuat untuk segera menghafal Al Qur’an.


Aku di lahirkan tanpa seorang Ayah ada bersamaku, Ayah tercinta berpulang ke Rahmatullah saat aku masih berada dalam kandungan Ibu yang saat itu berusa 8 bulan.


“ya Allah, Aku belum bisa membahagiakan orang tuaku, belum juga dapat membalas segala kebaikan kedua orang tuaku, terlebih Ayah, yang belum pernah Aku lihat seperti apa rupa beliau..” batin ku saat itu.


“Apakah Aku kelak menghadiahkan neraka untuk mereka ?” sungguh hati ku menangis saat itu teringat begitu banyak kelalaian dan dosa ku selama ini, dan berharap Allah memberikan ku kesempatan untuk dapat berhijrah dan memberikan hadiah terbaik untuk kedua orang tuaku.


Saat itu aku mulai mencari komunitas-komunitas yang mendukung aku melebur dengan kegiatan baik, yang menuntunku kepada amalan-amalaan yang Allah ridhoi.


begitu banyak pintu surga dan aku memilih pintu yang kelak di masuki oleh para penghafal qur’an, dengan harapan aku dapat bertemu dengan kedua orang tuaku dan menghadiahkan mereka mahkota terindah yang bahkan keindahan nya tak pernah kusaksikan di dunia selama ini.


Tibalah saat aku harus berangkat ke Jerman, ada perasaan khawatir kelak aku kembali kepada diriku yang sebelum nya, karena Jerman adalah negara dimana muslim menjadi minoritas.


Namun, Aku lagi-lagi bersyukur karena Allah selalu menjadi pelindung sesuai dengan sangkaanku selama ini, Allah memberiku banyak hikmah yang semakin membuatku termotivasi untuk fokus pada keinginan ku menghafal qur’an termasuk melalui beberapa orang sahabat yang Allah pertemukan di sana.


Sebuah kutipan dari seorang ustadz yang datang ke jerman dari tanah air di sampaikan oleh seorang sahabat kepadaku, kutipan yang selalu aku ingat sekaligus menjadi motivasi terbesarku hingga saat ini, “Buatlah Allah ridho dengan amalan yang kelak saat tiba masa kelulusan kuliah, Allah memandang berbeda , saat gelar dunia di sematkan kepada kami seluruh mahasiswa, Allah menambahkan gelar Al Hafidzoh untuk ku, sebuah gelar yang di sematkan secara ekslusif dan manis karena gelar ini khusus antara aku dengan Allah saja.”


Saat itulah Aku semakin termotivasi bahwa menghafal qur’an tidak tergantung kepada tempat maupun waktu, bagiku yang terpenting adalah niat dan tujuan yang jelas, dan aku bersyukur karena Allah memberikan aku kemudahan dalam niat dan melihat tujuan ku dengan jelas, mengapa aku harus menghafal qur’an.


Karena niat dan tujuan yang jelas akan sangat membantu untuk kembali bersemangat di saat futur melanda diri. sekaligus menambah fokus dalam melakukan nya.


Karena Aku tinggal jerman, dimana waktu menjadi sangat berharga maka yang ku lakukan adalah mengatur waktu sedemikian rupa agar aku selalu mendapat kualitas waktu terbaik untuk bersama Al-qur’an.


Tak hanya malam menjelang tidur atau pagi saat mentari menyapa, bus dan kereta pun menjadi saksi saat aku menambah hafalan atau mengulang-ulang hafalan ku. aku selalu iri pada meraka yang selalu dapat meluangkan waktu bersama qur’an , maka aku tak ingin kalah dengan meraka, aku ingin setiap detik yang kelak Allah tanya kepadaku dapat aku pertanggung jawab kan.InsyaAllah.


Dan cita-citaku kelak saat Allah memanggilku untuk pulang, aku sudah menyelesaikan hafalan qur’an ku..aamiin yaa robbal’alamiin…


Kisah ini di ceritakan oleh salah satu Tholibah Daarunnisaa  batch 6 yang saat ini tinggal di Jerman.